Tiada lagi ‘Malam’

Kamu seperti orang kesakitan, memeluk erat tubuhmu sendiri dengan bibir terkatup rapat dan rahang mengencang.
Sebetulnya aku ingin bilang, aku faham kenapa kamu sakit. Namun,,,tak sepatahkata pun keluar dari bibirku.
Aku juga sakit melihatmu sakit.

Semua kata-kata hilang lenyap, justru di saat seperti ini. Ketika kamu butuh candaan, lelucon segar, atau petuah bijak, agar kesedihan ini beroleh penawar. Kata kata menguap begitu saja disapu bungkusan udara. Keahlianku melucu, hilang.
Kita hanya mampu membisu, dan semua itu menjadi kado kebersamaan kita bertahun tahun.

Pandangan kita yang sedari tadi berlarian, mulai berani menemukan satu sama lain. Kita sama sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Bagaimana mungkin kulupa caramu memandangku dan bagaimana semua ini berawal.
Aneh.
Ketika kita mulai berbalik untuk menutup pintu, mendadak ruang yang tadi sempat kita tinggalkan, memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi dimana.

Bimbang. Tanganmu seperti hendak memelukku, tapi kau urungkan.
Dua manusia yang telah bercinta bertahun tahun dan merasakan hembusan nafas hampir tidak berjarak, pun merasakan setiap jengkal kulit, mendadak enggan untuk bersentuhan. Akhirnya tatapan dan sentuhan itu terbuang ke ujung tiada bertepi.

Kamu tahu, suatu malam itu menjadi malam paling mengerikan.
Karena setelahnya, tak ada lagi malam bersamamu.

Share This Post

Recent Articles

© 2012 Oky Lasmini Sastrawiguna. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Using WordPress · And Powered by Garut WebDev