
Hai, sobat !
Aku merasa baru saja jatuh cinta.
Berwarna dan hidup. Lihat saja, pagi ini kulewati dengan hangat.
Kusibak tirai, rendanya dibuai sepoi angin, membelai separuh wajahku.
Pandanganku menembus kabut pagi yang lembab.
Bau tanah sisa guyuran hujan memenuhi rongga dadaku.
Hai, lihat sobat !
Ada kupu-kupu kuning berbintik hitam di kedua kepak sayapnya.
Berputar rendah, ahaiii..dia hinggap di bingkai jendela.
Aku mengintipnya, ingin menyentuhnya, sebentar saja, sedikit saja.
Namun.
Sebelum semuanya usai, ia, kupu-kupu kuning berbintik hitam, telah meninggalkanku dengan sayapnya yang rapuh.
Pagi terlalu cepat berlalu.
Aku masih merindui kehangatan matahari dan cicit burung nuri.
Terlalu cepat berlalu, meninggalkan semu merah pada anak-anak yang berangkat sekolah.
Pada Agam yang pipinya gembil seperti kue serabi teman ku pagi ini dengan kehangatan satu poci teh tubruk beraroma melati, hasil racikanku sendiri.
Matahari pecah sudah dari balik rimbun akasia.
AKu masih harus melanjutkan hidup.
Kembali menanam harapan di dada.
Biar saja, ah !
Masih ada siang, sore, atau malam untuk tetap menisik butiran-butiran cinta ini.

