Ngopi Yuk ! Ajakan itu kerap terdengar di sela sela break dari sebuah aktifitas. Malah ada yang dengan sengaja mencari waktu buat ngopi. Acara ngopi bukan lagi hanya sekedar minum segelas kopi lalu setelah habis akan selesai begitu saja. Di baliknya, ada cerita yang ikut tersaji pula.
Ngopi telah menjadi budaya yang tak tergantikan sepanjang abad. Kebiasaan ngopi pun sudah ada pergeseran dari yang dahulunya dilakukan di warung kopi pinggir jalan, duduk berdempetan di bangku panjang, cemilannya seperti pisang goreng, ubi goreng, ketan atau bakwan goreng, musiknya dangdutan atau jaipongan , dalam suasana hangat dan akrab. Menjadi acara ngopi di mal mal atau di coffee shop terkenal dengan suasana dan racikan kopi yang dibuat lebih modern.
Sejumlah waralaba ngopi pun menjadi arena bisnis yang menggiurkan. Bedanya yang tradisi dan modern tentu gampang ditebak. Harga yang jauh berbeda dipengaruhi oleh ‘performed’ yang ditawarkan dari bisnis ‘Ngopi’ ini.
Teman ngopi pun tentu menyesuaikan, bukan lagi pisang goreng tapi sejenis roti, cake dan aneka cemilan modern, turut tersaji. Harga bukan masalah karena ada suasana dan gengsi yang juga bisa terbeli. Pilihan ada di tangan para penyuka ngopi, mau nongkrong di warung kopi yang kental ‘suasana-rakyat’ atau ngopi di coffee shop yang bergengsi ? Keduanya punya ciri khas masing-masing. Yang jelas kedua pilihan yang berbeda itu tak akan pernah mati dalam peradaban budaya ngopi di Indonesia, karena masing-masing punya kelas dan penggemar uniknya.
Kalau begitu : Ngopi Yuk !

