“Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi.
Tapi dalam bait bait sajak ini.
Kau takkan kurelakan sendiri
Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi.
Tapi diantara larik larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati
Pada suatu hari nanti,
Impiankupun tak dikenal lagi.
Namun di sela sela huruf sajak ini.
Kau takkan letih letihnya kucari”
****
Aku penikmat puisi puisi beliau, sang pujangga Sapardi Djoko Damono .
Puisi dengan judul ” Pada Suatu Hari” ini hanya salah satu dari 10 puisi lainnya yang tengah ku nikmati lewat musikalitas yang mengiris, saat ini.
Secangkir teh hangat dingin sudah.
Air mataku keburu membuncah.
Inilah saat ku duduk terdiam di depan sini, di sepetak mungil lantai kayu dan kuberi judul, serambi.
Mengepas lekuk pantat dengan papan yang terus menjarang dari hari ke hari.
Mengepas apa yang kurasa.
Mengidentifikasi pikiran-pikiranku karena semuanya tak lagi jelas.
Tak ada yang nyaman untuk kukenang.
Saat ku bersahabat dan ditinggal sendirian, bersama malam.
Bersama langit jernih yang mengumbar bintang-bintang lebih banyak dari yang kubutuhkan.
Yeaa…sendirian.
Aku perlu berterima kasih pada sang maestro yang telah membuatku malam kembali dapat menangis.
Karena
Tangislah aku terlahir menjadi manusia.


Ikut malam mingguan disini bun.
HEUEHEU
fRANK mah tak bisa malam mingguan karena sakit menyerang tubuh ini heheh
malming yang mantabs teh
ih geuningan aya domain nyalira …. ngiring ngalangkung ah
eh sanes saya kan nu bikin nangisna?