Bintang…
Aku khawatir aku terlalu jauh menapaki keluh demi keluh. Aku khawatir muram ku membatu, membeku dan kian kelu. Menyadari hal itu aku bergegas menulis beberapa puisi tentang cinta, tentang lelucon, optimisme, gerai tawa, dan harapan-harapan yang gagah. Tetapi, lagi-lagi, aku sering lupa meletakkan apapun. Mungkin puisi-puisi itu jatuh di jalanan atau entahlah. Aku mencari kemana-mana, tak juga kutemukan; padahal malam larut demikian kental. Demikian bengal.
Memang, sesuatu yan membosankan berjalan terus menunduk. Sepanjang jalan aku terus menunduk. Sepanjang jalan aku terus mencari lipatan kertas. Aku mencarinya di tepian jalan, di toilet, di sekretariat, di tong sampah, di taman, di tikungan ingatanku. Aku terus mencari di setisp jalan yang beberapa jam lalu pernah kulewati.
Aku keliru.
Selalu, aku keliru. Tak ada tempat yang aku temui menyimpan puisi-puisi itu. Aku berharap puisi itu terjatuh di tepi jalan; tetapi yang aku temukan hanya sobekan kertas bekas bungkus makanan. Aku juga berharap puisi itu kutemukan di tong sampah, tetapi aku hanya menemukan sobekan kertas dari buku panduan bisnis Multi Level Marketing (MLM). Aku terus berharap menemukan puisi-puisi.
Tetapi aku ceroboh.
Aku lupa. Barangkali aku lupa.
Aku curiga kepalaku hanya punya kapasitas 0MB untuk memori.
Aku pelupa, sangat.
Bintang.
Aku berharap melupakan lembar-lembar puisi itu. Tetapi aku tak bisa. Aku selalu menderita ketika berniat melupakan tulisanku yang hilang…
****
Pada tengah malam saatku menjamumu, Bintang, dengan peluh meluruh,,tapi aku kedinginan. Serasa aku ingin mati saja bersamamu… *_*


frank mah menunggu bintang jatuh hehhee