Noktah Merah di Berlin

Cerpen
Dari balik buku “Three Colours”

Seumur hidupnya baru kali ini Satria merasakan sulitnya beradaptasi di negara dengan empat musim yang berbeda. Udara dingin yang mencucuk tulang, terlebih bagi Satria yang hidup di negara tropis. Namun di balik itu semua, sudah sepantasnya Satria merasa senang. Akhirnya bisa juga ia melihat butiran salju bagai serpihan kapas yang jatuh luruh ke bumi.

Ia mendapatkan kesempatan emas yang sudah lama membelukar dalam mimpinya. Perusahaan tempat ia bekerja akhirnya memberikan beasiswa untuk meneruskan Masternya di Technische Universitatit Berlin, sebuah kesempatan yang langsung disambarnya. Apalagi seluruh biaya ditanggung oleh perusahaannya.

**
Tak terasa satu bulan sudah Satria mengikuti perkuliahan. Akhir Januari, sepulang dari kampus, ia berjalan menyusuri trotoar yang sedikit lenggang. Tidak begitu banyak orang berlalu lalang di jalanan sore itu. Musim dingin membuat Satria bergegas mempercepat langkahnya. Salju turun di mana-mana. Ini adalah puncaknya musim dingin. Tubuhnya menggigil, giginya gemeretuk. Uap napas dari mulutnya membaur lalu menghilang. Dia hanya ingin segera sampai di apartemennya lalu menghidupkan penghangat ruangan dan minum secangkir kopi panas.

“Hai, baru pulang ?”, sebuah suara menyambutnya di depan pintu begitu ia menjejakkan kakinya. Satria sudah menduga siapa pemilik suara itu. Shara.
“Ya aku baru pulang dari kampus mampir ke perpustakaan, ada beberapa buku bacaan yang harus kucari.” Satria membuka mantel dan menggantungkannya di balik pintu. Topi kojaknya disimpan di atas meja kecil. Sarung tanga dari kulit, sudah tidak membungkus tangannya lagi.
“Bibirmu kenapa, kedinginan?” Shara menyelidik, matanya yang coklat membelalak. Sambil mengangguk, Satria menyentuh bibirnya yang kering dan perih. Shara menyodorkan secangkir kopi panas, aromanya merangsang penciumannya. Seperti anak kecil yang diberi permen coklat, diseruputnya kopi panas itu. Kehangatan perlahan merambat memenuhi sekujur tubuhnya.
“Terima kasih, Shara” Satria berucap. Wanita bule itu hanya tersenyum dan melenggang berlalu dari hadapannya.

***

Shara, tiba-tiba wanita itu hadir begitu saja mengisi hari-harinya yang padat. Apartemen yang saling berhadapan membuat mereka bertemu setiap hari. Mereka juga belajar di kampus yang sama. Raut muka Shara adalah perpaduan aristokrat timur dan agresivitas barat. Tidak banyak yang dia ketahui dari perempuan yang nampak apatis itu. Satria hanya tahu , Shara lahir di Perancis, sudah enam tahun menjadi warga Berlin. Semenjak Satria datang ke kota itu, ialah yang menjadi guide-nya.

***

“Selamat datang di kota Berlin” Begitu ucapnya saat pertama kalinya menyusuri sungai Rhine yang hijau dan tenang. Saat itu Satria tidak banyak bicara, ia hanya menjadi pendengar yang baik saja.
“Di sini kehidupan malam tak pernah berakhir…hey..kamu suka dansa?”
Dan malam itu di sebuah night club, Shara mempertunjukkan kebolehannya menari. Pakaiannya yang minim membuat jantung Satria berdentum-dentum berpacu dengan suara musik hingar bingar. Satria termangu di pojok sambil menikmati secangkir capucino. Sekelebatan, wajah bundar manis berlesung pipit, melintas di pelupuk matanya, Widariani. “Ah sedang apa dia di sana?”

Malam kian merangkak, benar-benar dunia malam yang tak berakhir. Satria tenggelam di baliknya. Dituntaskan di apartemen Shara, ia benar-benar puas menjadi ombak di atas gairah Shara, hidangan lezat telah direguknya, yang tersisa hanya ranjang kusut masai. Sambil merapikan pakaiannya Satria bertanya.

“Kamu sudah pernah menikah?” Pertanyaan yang telah lama dipendamnya.
“Apa perdulimu?”
“Hanya bertanya”
“Sudah menikah atau belum, itu bukan urusanmu. Punya suami atau bukan, juga bukan urusanmu”
Dengan muka bingung, Satria berusaha menyimak.
“Lalu hubungan kita sebagai apa ?”
Pertanyaan yang membuat perempuan bule itu geli. Masih ada lelaki yang senaif itu, pikir nya.
“Tidak sebagai apa-apa, kamu sendiri bukankah punya tunangan, aku bahkan telah menikah, suamiku menetap di Perancis. Aku sudah jarang bertemu dia akhir-akhir ini. Tapi aku perduli mereka. Aku hanya menjalani hidup”
Satria merasakan sekujur tubunya membeku. Lebih dari cuaca musim dingin saat itu.
“Seandainya suamimu tahu apa yang baru saja telah kita lakukan, bagaimana?” Satria bertanya.
Perempuan itu tertawa mengejek sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Aku berhak tidur dengan siapapun dan dengan laki laki manapun yang kukehendaki, termasuk denganmu”
Satria terdiam. Malam terasa mati. Waktu seperti terhenti.

***
Setelah kejadian malam itu Satria memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Shara. Terlalu banyak hal yang tidak dipahaminya mengenai Shara. Sore itu salju luruh satu persatu, bagai serpihan kapas. Satria terpaku menatapnya dari balik jendela flatnya. Apartemennya yang lama telah ia tinggalkan. Ada flat sederhana, nyaman dan bersih, hanya beberapa meter dari kampusnya. Di dalamnya hanya ada tempat tidur dan kamar mandi.

Kerinduan Satria membuncah. Rasa bersalahnya pada Widariani, tunangannya ingin dia tumpahruahkan. Cincin tunangan yang melingkar di jari manisnya, ia pandangi lekat-lekat. Pada sore itu pula ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sebuah taman Bali , Taman Marzanh namanya, sebuah taman yang berada tepat di tengah kota Belin. Siapa tahu dengan menikmati suasana taman yang benuansa Bali, kerinduannya akan sedikit terobati.
Satria menapaki batu koral yang berserakan perlahan-lahan, menatap nanar Bale Bale Dangin yang diselimuti salju. Merasakan udara dingin membeku, membuatnya demikian hampa. Sunyi menelusup lorong hatinya, mengetuk kerinduan akan Indonesia. Mataharinya, Widariani.

***

Sementara, bertepatan dengan saat itu, di belahan bumi lain, seorang gadis manis dengan lesung pipit di kedua pipinya, tengah memasuki sebuah taksi yang telah dipesannya. Tenaya, kawan prianya semasa kuliah yang tengah sukses jadi seorang pengusaha, menunggu di sebuah cafe di daerah Ubud. Setelah menghabiskan makan malam, mereka akan meluncur menuju Kintamani. Bercengkrama di sepanjang jalan yang berkelok. Menghabiskan waktu bersama dan tentu saja seperti biasa, akan bedrakhir di sebuah kamar hotel. Selalu, Tenaya mendapat malam yang hangat dari gadis manis itu.
Dari gadis bernama, Widariani.

Share This Post

Recent Articles

© 2012 Oky Lasmini Sastrawiguna. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
Using WordPress · And Powered by Garut WebDev